Pages

ketik, untuk mencari sesuatu

Wednesday, February 3, 2010

MotoGP, Rookie 2010

MotoGP musim 2010 ini bakal jadi duel terpanas di antara para rookie kelas para raja. Para pendatang baru benar-benar diuji skill dan mentalnya di kelas 800 cc. Peraturan baru MotoGP membuat mereka harus berjuang untuk bisa mendapat motor terbaik di masa depan. Lebih penting lagi, kerja keras untuk masuk tim pabrikan.

Pendatang baru tahun ini boleh dibilang lulusan terbaik dan punya potensi besar. Sebut saja, Marco Simoncelli dan Hiroshi Aoyama. Mereka juara dunia GP250 pada 2008 dan 2009. Belum lagi ada Ben Spies, kampiun World Superbike (WSB) 2009. Ditambah dua lulusan terbaik GP250 lainnya, Alvaro Bautista, Hector Barbera dan Aleix Espargaro.

Dari semua itu, cuma Bautista yang berbekal motor pabrikan dari Suzuki. Ini berkat aturan yang melarang rookie langsung gabung ke tim pabrikan, kecuali tim itu tanpa tim satelit, seperti Suzuki.

Ini yang membuat persaingan antar mereka akan makin keras. Pertarungan jadi seimbang. Senjata mereka boleh dibilang, bukan yang terbaik.

Setiap rookie punya kelebihan masing-masing. Simoncelli, sebenarnya bisa menjadi penerus Valentino Rossi. Ia punya jiwa penghibur dan mental juara. Sayang, ia harus bergabung dengan Honda yang risetnya agak ngaco pada RC212V. "Target sih, masuk lima besar klasemen. Dan itu artinya menjadi yang terbaik di antara rookie," yakin Simoncelli.

Keyakinan Simoncelli berbalik dengan sikap rendah Aoyama. Meski baru mencatatkan diri sebagai juara dunia GP250, doi gak terlalu ambisius dan sesumbar. Mungkin joki yang bernaung di tim baru Interwetten Honda itu ingat nasib joki-joki Jepang di MotoGP. Rata-rata tidak ada yang bersinar.

Dan sepertinya, Aoyama pun bisa dibilang sebagai pembalap yang 'kurang nyali'. Ia lebih banyak berhitung seperti pebisnis ulung. "Tahun pertama akan selalu sulit buat semua rookie. Makanya hanya berharap bisa melakukan yang terbaik. Aku akan berusaha seperti Daijiro Kato," ujar Aoyama.

Yang berbahaya justru Ben Spies. Sebagai lulusan WSB, joki Amerika ini boleh dibilang paling matang dengan karakter mesin 4-tak. Terbukti dengan hasil finish ke-7 pada debutnya pada seri terakhir MotoGP 2009 di Valencia. Dan, dia beruntung karena bergabung dengan Yamaha di saat YZR-M1 sedang di puncak. Satu lagi, di Yamaha Tech3, Spies gabung dengan senior sesama Amerika, Colin Edwards. Edwards yang diproyeksikan sebagai test-rider tim dan Yamaha akan banyak membantu Spies.

"Saat ini, yang terbaik adalah bergabung bersama Yamaha dan Colin Edwards. Aku sangat kenal Yamaha. Dan hasil debut bisa berakhir lebih baik lagi musim nanti," yakin Spies.

Lalu, gimana dengan Bautista, Barbera dan Espargaro? Tanpa bermaksud meremehkan ketiganya, tiga Spaniard ini akan jadi pelengkap. Bautista, meski di tim pabrikan, kekuatan Suzuki GSV-R masih setara tim satelit pabrikan lain. Dan Suzuki selalu kekurangan dana untuk mengembangkan GSV-R.

Beralih ke Barbera dan Espargaro. Sebagai joki tim satelit Ducati, mereka punya bekal mesin GP10 yang lumayan. Sayang, masa adaptasi mereka akan lebih sulit ketimbang sesama rookielainnya. Itu tidak lepas dari karakter Desmosedici yang teramat liar. Jadi, jika Ducati tidak bisa membuat GP10 bisa dipakai semua joki, rasanya Barbera dan Espargaro harus berjuang mati-matian untuk bertahan di MotoGP.

Sumber: motorplus


Bookmark and Share


Artikel Terkait: